Sumber: Zaafarani Zahirul Haq
Hati adalah panglima, begitulah Rasulullah menggambarkan salah satu bahagian tubuh manusia. Bila ia benar dan sihat, sihat pula seluruh kelakuan fisik pemiliknya. Sebaliknya jika ia rosak, maka rosak pula segala tingkah laku fisiknya. Yang menghentak, menegur dan menyedarkan diri kita dari berbagai kesalahan dan alpa sehingga dengan pengaruh tersebut kita dapat menentukan baik tidaknya perbuatan kita.
Islam memandang hati tidak hanya sebatas mendefinisikannya sebagai sebuah benda yang berbentuk segumpal darah, namun jauh lebih dari itu, Islam memberikan perhatian yang sangat besar dalam memelihara keadaan hati, bahkan yang menjadikan satu dari dua syarat diterima atau tidaknya suatu pekerjaan ibadah iaitu factor niat yang letaknya ada dalam hati dan benar tidaknya amalan tersebut sesuai dengan syariat Islam. Sehingga hal ini tentunya memerlukan perhatian yang sangat serius bagi pemiliknya agar ia tetap dalam keadaan yang bersih dan bening dari segala bentuk noda dosa dan kemaksiatan.
Dalam hati manusia terdapat fitrah dan ketundukan sebagai hamba terhadap Tuhannya yang menciptakan, menghidupkan, yang memberikan rezeki dan yang akan mematikannya. Setiap manusia sejak pertama kali ditakdirkan ada, telah diikat dengan kepatuhan kepada Tauhid, mengesakan Allah Yang Maha Esa “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari Sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman):
“ Bukankah Aku ini Tuhanmu?”. Mereka menjawab :”Betul (engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.”
QS Al A’raf :127
Fitrah kemusliman atau ketundukan merupakan warna asli dari keseluruhan tabiat fisik dan psikis kita . Fitrah, yang dengannya manusia dititahkan, memberi sensor diri dan pelita penerang jalan. ‘Istafti Qalbak ‘. Mintalah fatwa pada hatimu. Kebaikan itu adalah sesuatu yang membuat jiwa dan hatimu tenang. Sedangkan dosa itu adalah sesuatu yang memunculkan keraguan dan kegelisahan dalam dada ... Itulah jawapan Rasulullah SAW saat ditanya tentang definisi al birr atau kebaikan oleh seorang sahabat bernama Wabishah bin Ma’bad ra.
Dari definisi al birr tersebut, sangat jelas bahawa hati nurani mempunyai peranan yang sangat strategik bagi manusia dalam menjalani kehidupan ini. Ini menunjukkan bahawa barangsiapa yang amal baiknya membuat hatinya suka dan amalan buruknya membuat hatinya gelisah maka dia itu adalah muslim. Allah SWT memberikan kebebasan kepada manusia untuk memilih berbagai pilihan yang ada, dengan hati ia mempunyai kemampuan untuk membezaka n mana yang baik dan mana yang buruk dari berbagai pilihan tersebut.
"Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaan"
QS As Syams :8
Tidak hanya sebatas hati yang Allah berikan kepada manusia, namun Allah juga mengutus para Rasul untuk mengajari manusia bagaimana mengelola instinct-instinct dasarnya, sekaligus mempertajam hati nuraninya.
“Dan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan , maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepadaAllahlah kesudahan segala urusan.”
QS Luqman : 22
Fitrah yang ada pada manusia sampai bilapun tidak akan berubah, bagaimanapun keadaan peradaban dan kemajuan manusia :
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada (agama) Allah, (tetaplah) atas fitrah Allah yang menciptakan manusia menurut fitrah Allah itu. Tidak ada penambahan pada fitrah Allah itu. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui
QS Ar Ruum : 30
Dalam alur kehidupan, hawa nafsu sebagai bahagian dari diri manusia mampu mengotori hati ini dengan daki-daki dan dosa kemaksiatan, hati yang mempunyai fungsi sebagai teman dalam menuntun diri kita akan hilang peranannya dengan padamnya cahaya yang dimilikinya, mengacaukan jernih suaranya dan memandulkan ketajamannya.
Seperti yang ditegaskan oleh Rasulullah Saw
“Sesungguhnya dosa-dosa itu bila terus menerus menimpa hati, maka ia akan menutupinya. dan bila hati tertutup, akan datang kunci dan cap Allah SWT. Bila sudah demikian , tak ada lagi baginya jalan, tidak jalan keimanan untuk masuk kedalamnya, tidak juga jalan kekafiran untuk keluar darinya"